Laman

27 November 2012

(Degradasi) Siti Nurbaya dan Masyarakat Tidak Gemar Membaca

Oleh: Harris Efendi Thahar (Penulis Cerpen dan Guru Bahasa dan Sastra Indonesia)

Penduduk Kota Padang menyebut bukti kecil yang menjorok ke laut persis di muara sungai itu Gunung Padang. Ketinggian bukit hanya sekitar 200 meter dari permukaan laut, tidak pantas disebut gunung. Sejak zaman kolonial, bukti tersebut juga berfungsi sebagai areal perkuburan masyarakat yang tinggal di sekitar muara sungai hingga ditutup 1990-an, setelah ada larangan dari Pemerintah Kota Padang. Kini Gunung Padang diyakini banyak orang sebagai tempat berkuburnya Sitti Nurbaya, tokoh cerita novel karya Marah Rusli.

07 Oktober 2012

Haji Merah Dari Kauman

Jangan Jadi “Islam Lamisan”
H. Misbach
dalam Medan Moeslimin
      “Misbach seperti harimau di dalam kalangannya binatang-binatang kecil. Dia tidak takut mencela kelakuan orang-orang yang mengaku Islam tetapi selalu menghisap darah teman sendiri,” salut Mas Marco Kartodikromo mengenang sahabatnya itu.
      Misbach memang eksentrik, sama seperti Marco. Mereka berdua sudah sehati semenjak paruh pertama abad pergerakan nasional.
      Sewaktu Marco mendirikan Inlandsche JournalistenBond (IJB), serikat wartawan pertama di Indonesia, pada awal 1914, Misbach dengan penuh kesadaran segera bergabung sebagai angkatan pertama. Simak penuturan Marco mengenai hal ini:

16 September 2012

Genjer-genjer dan Stigmatisasi Komunis

Genjer-genjer mlebu kendil wedange gemulak
Setengah mateng dientas yong dienggo iwak
Sego nong piring sambel jeruk ring ngaben
Genjer-genjer dipangan musuhe sego
Sebelum pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang dengan kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang surplus makanan berubah sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan makanan, sampai-sampai masyarakat harus mengolah daun genjer (limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh masyarakat dianggap sebagai tanaman pengganggu.

10 September 2012

Pancasila - Indonesia

Dasar dan Falsafah Bangsa Indonesia
             Dalam film A Beautiful Mind yang mengisahkan pemenang Nobel bidang matematika, John Nash, ada adegan John Nash dan pacarnya di taman pada malam pesta. John Nash memandang ke langit malam yang bertaburan bintang, dan meminta kepada pacarnya untuk menyebutkan benda yang diinginkannya. Pacarnya menyebut “payung”, dan John Nash menuntut tangan pacarnya menunjuk ke langit dan memilih bintang-bintang taburan tersebut sebagai gambar payung.

              Dua kekasih itu kemudian penuh tawa dan canda menyebutkan benda-benda lain, yang ternyata dapat ditemukan di taburan bintang-bintang malam. Langit malam menyediakan berbagai bentuk gambar yang kita inginkan asal kita jeli membangun hubungan-hubungan antar bintang-bintang tersebut.

10 Februari 2012

Sastra Indonesia dalam Skenario Imperialisme

Nasionalisme humanis dibangun atas dasar prinsip, setiap bangsa mampu memberikan sumbangan dalam menegakkan harkat dan martabat manusia, serta untuk pengembangan nilai-nilai humanisme sesuai dengan karakteristik dan sifat-sifat bangsa itu. Tidak hanya paham kebebasan, keadilan dan kesetaraan, tetapi paham toleransi adalah hal yang perlu mendapat perhatian dalam tata pergaulan internasional. Nasionalisme yang berlandaskan pada toleransi tidak hanya dapat menciptakan perdamaian dunia, tetapi dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Demikian gagasan nasionalisme humanis dari seorang Soekarno. 

19 Januari 2012

Ideologi

Pengertian Ideologi
Tata Nilai, Impian dan Cita-cita
Secara etimologi (sejarah kata), ideologi berasal dari kata idea=pikiran, dan logos=ilmu. Secara tertulis, ideologi berarti studi tentang gagasan, pengetahuan kolektif, pemahaman-pemahaman, pendapat-pendapat, nilai-nilai, prakonsepsi-prakonsepsi, pengalaman-pengalaman, dan atau ingatan tentang informasi sebuah kebudayaan dan juga rakyat individual. Filsuf Perancis, Antoine Destutt de Tracy (1754-1836), yang pertama kali menciptakan istilah "Ideologi" pada 1796, mendefinisikan ideologi sebagai "ilmu tentang pikiran manusia (sama seperti biologi dan zoologi yang merupakan ilmu tentang spesies) yang mampu menunjukkan jalan yang benar menuju masa depan."